Traditional Art
29 Jul 2026
11
0.0 (0)
0
Aroma Rebung dan Romansa Masa Lalu: Menggigit Cerita di Balik Lumpia Semarang
Kalau ada satu aroma yang paling jujur mewakili Semarang, buat saya, itu bukanlah aroma laut di pesisir utara atau aroma kopi dari kafe-kafe hipster di Kota Lama. Aroma itu adalah perpaduan rebung manis, ebi, dan bawang putih yang menguar dari wajan besi panas di sebuah gang sempit di kawasan Pecinan.
Bagi pendatang baru, aroma rebung ini sering kali bikin dahi berkerut. "Kok baunya pesing, ya?" begitu biasanya komentar jujur mereka. Tapi tunggu sampai Anda menggigit kulit lumpia yang digoreng garing itu, lalu bertemu dengan isian rebung manis-gurih yang masih mengepul. Dalam satu kunyahan, keraguan itu biasanya langsung berubah menjadi anggukan setuju.
Lumpia Semarang memang bukan sekadar camilan sore. Ini adalah sepotong sejarah kota yang bisa Anda makan.
Cinta Beda Budaya yang Melahirkan Resep Legendaris
Sambil mengantre di depan kedai Lumpia Gang Lombok—yang usianya sudah lebih dari seabad—saya selalu teringat pada cerita bagaimana makanan ini tercipta. Ini bukan hasil eksperimen koki istana, melainkan buah dari kisah cinta dua manusia biasa di abad ke-19.
Dulu, ada seorang pemuda perantauan dari Fujian, Tiongkok bernama Tjoa Thay Yoe yang menetap di Semarang. Ia berjualan penganan berisi daging babi dan rebung. Di tempat yang sama, seorang perempuan Jawa asli bernama Mbok Wasih berjualan makanan serupa, tapi isinya udang dan kentang yang manis.
Alih-alih bersaing dan menjatuhkan, mereka justru jatuh cinta, menikah, dan—yang paling penting bagi sejarah kuliner kita—menggabungkan resep mereka.
Daging babi dihilangkan agar halal dan bisa dinikmati semua orang. Isiannya diganti ebi (udang kering), ayam, dan rebung cincang dengan bumbu manis khas Jawa dan gurih khas Tionghoa. Kulitnya dibuat renyah namun tetap lembut di dalam. Dari dapur kecil sepasang suami istri inilah, ikon kuliner Lumpia Semarang lahir.
Ritual Makan Lumpia yang Tak Boleh Dilewatkan
Menikmati kuliner khas Semarang ini tidak bisa sembarangan. Ada "ritual" kecil yang membuat rasanya naik kelas. Anda tidak sekadar memakannya dengan saus tomat atau sambal botolan.
Setiap porsi lumpia selalu disandingkan dengan tiga pendamping wajib:
Saus Cokelat Kental: Saus yang terbuat dari campuran bawang putih, tepung maizena, dan gula merah. Rasanya manis, lengket, dan gurih.
Lokio (Daun Bawang Kecil): Memberikan sensasi segar dan sedikit pedas yang menetralkan rasa manis dari rebung.
Cabai Rawit Hijau: Sentuhan akhir buat Anda yang butuh tendangan rasa pedas agar tidak eneg.
Mencelupkan ujung lumpia panas ke dalam saus kental, menggigitnya bersama sebatang lokio dan setengah cabai rawit... percayalah, ledakan rasanya di mulut akan membuat Anda paham mengapa orang rela antre berjam-jam hanya untuk penganan ini.
Menjaga Tradisi di Tengah Serbuan Camilan Kekinian
Hari ini, mencari oleh-oleh khas Semarang tidaklah sulit. Anda bisa menemukan varian lumpia di sepanjang Jalan Pandanaran, Jalan Pemuda, hingga Mataram. Ada yang variannya masih dijaga ketat oleh keturunan generasi kelima Tjoa Thay Yoe, ada pula yang sudah dimodifikasi dengan isian daging sapi, seafood, hingga keju mozarella.
Semuanya enak. Semuanya sah-sah saja. Namun, bagi saya, duduk di bangku plastik sederhana di kawasan Pecinan, melihat tangan-tangan keriput yang dengan cekatan menggulung adonan, memberikan kepuasan yang berbeda. Ada rasa hormat pada tradisi yang terus dirawat di sana.
Lengkapi Jurnal Kuliner Anda di Semarang
Belum ke Semarang namanya kalau belum makan lumpianya. Bingung mencari lokasi kedai lumpia legendaris dari generasi ke generasi? Atau ingin tahu rekomendasi kuliner hidden gem di sekitar Pecinan? Jelajahi panduan rasa selengkapnya hanya di semarangnext—karena setiap sudut Semarang selalu punya cerita untuk dikecap.
Interaksi pembaca
Rating, Favorit & Ulasan
Masuk ke akun untuk menyimpan favorit dan menulis ulasan.
Belum ada ulasan yang disetujui.