City Development
20 Jul 2026
Semarang Next
38 views
DPRD Semarang Apresiasi Sekolah Rakyat Rowosari, Beri Catatan Terkait Fasilitas dan Psikolog
Kehadiran Sekolah Rakyat (SR) di Rowosari, Kota Semarang, mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim. Saat memimpin peninjauan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari Kamis, ia menilai program inisiasi pemerintah pusat ini menjadi angin segar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk bisa mengakses pendidikan secara gratis.
Dalam kunjungannya meninjau ruang kelas, asrama, hingga ruang makan, Mualim mengaku kagum dengan sistem pendidikan berasrama yang diterapkan. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas program yang menanggung seluruh kebutuhan siswaβmulai dari biaya sekolah, tempat tinggal, konsumsi, hingga pendampingan karier pascakelulusan. Menurut Mualim, konsep asrama ini sangat efektif untuk melatih kemandirian, kepercayaan diri, dan karakter siswa.
Meski memberikan pujian, Komisi D tetap memberikan sejumlah catatan evaluasi untuk penyempurnaan program. Pertama, Mualim mendorong pengadaan fasilitas penunjang teknologi di kelas, seperti proyektor (infokus), yang pengadaannya bisa dikoordinasikan antara pemerintah pusat dan daerah.
Kedua, perlunya penambahan tenaga pendidik dan pembina asrama agar sebanding dengan jumlah siswa. Ketiga, pentingnya pendampingan psikologis bagi para siswa. Mualim mencontohkan adanya siswa yang menangis karena rindu keluarga. Mengingat latar belakang siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu hingga yatim piatu, kehadiran psikolog dinilai sangat krusial. Ia juga berharap ke depannya kapasitas sekolah bisa terus ditingkatkan agar mampu menampung semua pendaftar.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SR Rowosari, Ridho Irwanto, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran 2026/2027, pihaknya menerima 270 siswa baru yang terbagi rata untuk jenjang SD, SMP, dan SMA (masing-masing 90 anak). Selain itu, terdapat juga kuota masing-masing 50 siswa untuk kelas lanjutan SD dan SMA.
Terkait kondisi psikologis siswa, Ridho membenarkan bahwa di minggu pertama ini banyak anak yang mengalami homesick (rindu rumah). Namun, ia menilai hal tersebut sebagai fase adaptasi yang wajar dan berharap adanya dukungan penuh dari orang tua.
Mengenai kebutuhan guru, Ridho menyebut kondisinya saat ini masih cukup terkendali karena guru SMP dan SMA bisa saling melengkapi. Walau begitu, ia mengakui masih membutuhkan tambahan guru untuk mata pelajaran tertentu seperti agama, serta tambahan sekitar tiga orang guru SD.
Sementara itu, untuk urusan infrastruktur, Ridho memastikan saat ini tidak ada pembangunan gedung baru. Pengerjaan fisik yang sedang berlangsung hanya berfokus pada tahap penyelesaian akhir (finishing) agar seluruh fasilitas dapat segera digunakan secara maksimal.