Sugeng Rawuh ing SEMARANG

Semarang Next Level

Menjelajahi Kota Atlas dalam satu platform digital. Discover heritage, culture, culinary, and smart innovation in the heart of Central Java.

Semarang Next
Sugeng Rawuh ing SEMARANG

Kota Lama Semarang

Jelajahi pesona kawasan heritage dengan arsitektur kolonial Belanda yang memukau dan penuh sejarah. Nikmati suasana retro yang tak terlupakan.

KOTA LAMA
Sugeng Rawuh ing SEMARANG

Lawang Sewu

Gedung bersejarah dengan seribu pintu yang menyimpan cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ikon kota yang tak pernah pudar.

LAWANG SEWU
Sugeng Rawuh ing SEMARANG

Sam Poo Kong

Kelenteng tertua di Semarang dengan nilai sejarah dan toleransi antarbangsa yang tinggi. Warisan budaya yang tak ternilai.

SAM POO KONG
Sugeng Rawuh ing SEMARANG

Masjid Agung Jawa Tengah

Nikmati kemegahan arsitektur Islam modern, payung hidrolik ikonik, dan panorama Kota Semarang dari Menara Al Husna dalam satu destinasi wisata religi yang memukau.

MAJT
Scroll

Luas Wilayah

373,78 km²

Populasi

1,7 Juta

Administratif

16 Kecamatan

Wifi Publik

titik

CCTV

10K+ Titik

Fasilitas Kesehatan

370+
semarang map
Semarang 3D Map
Sejarah Kota Semarang

Journey
Through Time

Sejarah panjang perkembangan Kota Semarang dari masa ke masa, merekam jejak kerajaan maritim purba hingga menjelma menjadi sebuah kota modern metropolitan cerdas yang sangat inklusif.

Historical Semarang View

GEREJA BLENDUK HERITAGE

Mengunjungi sisa arsitektur kuno megah abad ke-18 di tengah kota Semarang.

01

Era Kerajaan & Pelabuhan

Abad ke 8M hingga 16 M
+

Pada abad ke-8 Masehi, gugusan pesisir di utara Jawa dikenal dengan nama Pragota (kini menjadi wilayah Bergota) dibawah Kerajaan Mataram Kuno yang berperan vital dalam pelayaran dagang antarpulau. Selama berabad-abad, wilayah ini mengalami proses sedimentasi, Endapan lumpur yang terbawa oleh aliran Kali Kreo, Kali Kripik, dan Kali Garang tersebut mengisi ruang laut dangkal sehingga mengubah lanskap perairan menjadi daratan pesisir.

Pangeran Made Pandan, seorang bangsawan keturunan Brawijaya yang juga dikenal sebagai Maulana Ibnu Abdul Salam atau Ki Ageng Pandan Arang I. Berdasarkan historiografi lokal, beliau membuka kawasan perbukitan Bergota dan mendirikan pusat pengajaran agama (pesantren) di wilayah bernama Pulau Tirang Amper (kini kawasan Mugas). Beliau mengamati sebuah fenomena botani yang unik di kawasan tersebut, yakni tumbuhnya pohon-pohon asam (Tamarindus indica) yang berjarak sangat berjauhan satu sama lain. Dalam bahasa Jawa, fenomena ini disebut sebagai asem arang (asam yang jarang), yang kemudian secara linguistik berfusi menjadi kata "Semarang"
02

Kedatangan Cheng Ho

Abad 14 M - 15 M
+

Pendaratan armada laksamana dari Dinasti Ming, Zhèng Hé (Cheng Ho), pada awal abad ke-15. Menurut catatan historiografi, armada monumental ini bersandar di Pelabuhan Simongan pada tahun 1435 M, di muara sebuah sungai yang saat ini dikenal sebagai Kaligarang. Pendaratan Cheng Ho, yang merupakan seorang Muslim, tidak hanya membawa misi diplomatik dan niaga, tetapi juga menumbuhkan akar pertukaran budaya. Jejak pendaratan tersebut diabadikan melalui pendirian sebuah tempat ibadah di gua batu, yang melalui proses akulturasi dan sinkretisme budaya yang panjang kini dikenal luas sebagai Kelenteng Sam Poo Kong atau Gedung Batu. Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming tiba di Semarang, membawa pengaruh budaya Tiongkok yang kuat pada perkembangan kota.

03

Era Kolonial Belanda

1678 M – 1942 M
+

Menjelang akhir abad ke-17, krisis legitimasi dan perang suksesi yang melanda Kesultanan Mataram menjadi titik masuk bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Semarang. Pada tanggal 15 Januari 1678, Sunan Amangkurat II dari Mataram dipaksa menandatangani perjanjian yang menjaminkan penguasaan wilayah pesisir pantai utara, termasuk pelabuhan Semarang, kepada VOC sebagai kompensasi atas intervensi militer Belanda dalam meredam pemberontakan Trunojoyo. Penyerahan ini direalisasikan secara mutlak pada tahun 1705 oleh Susuhunan Pakubuwono I, yang secara formal melegitimasi status Semarang sebagai teritori penuh milik Belanda. Semarang berkembang menjadi kota pelabuhan utama dan pusat perdagangan VOC, mewariskan kawasan Kota Lama (Little Netherland).

04

Kemerdekaan Indonesia

1945
+

Perang Dunia II menghancurkan seluruh kemapanan yang telah dibangun oleh rezim Hindia Belanda selama berabad-abad. Pendaratan tentara Kekaisaran Jepang (Dai-Nippon) di Pulau Jawa pada Maret 1942 memaksa pemerintah kolonial menyerah tanpa syarat. Selama masa pendudukan militer yang relatif singkat (tiga setengah tahun), struktur morfologi kota mengalami stagnasi dan kemunduran akibat perusakan fasilitas publik. Seluruh fokus administrasi direkayasa ulang untuk mendukung kampanye militer Jepang. Wali Kota Belanda terakhir, H.E. Boissevain, digulingkan dan sistem komando dipindahkan sepenuhnya ke tangan militer Jepang. Dinamika sosio-politik paling kritis meletus tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang. Memasuki bulan Oktober 1945, ketegangan antara pemuda revolusioner Indonesia (dibantu Badan Keamanan Rakyat dan Kepolisian Istimewa) dengan sisa-sisa garnisun Jepang yang masih bersenjata lengkap. Semarang menjadi saksi sejarah Pertempuran Lima Hari, sebuah perlawanan heroik rakyat melawan tentara Jepang.

05

Semarang Modern

1958 - Sekarang
+

Soekarno menginstruksikan penciptaan pusat kegiatan kota (civic center). Dalam kurun waktu 1965–1969, dengan mengerahkan berbagai sumber daya yang tersisa, pemerintah mengubah sebuah area tak berpenghuni di bagian selatan kota menjadi Kawasan Simpang Lima dengan nama Lapangan Pancasila. Pada tanggal 23 November 1985, Presiden Soeharto meresmikan pelabuhan hasil revitalisasi dan menamainya Pelabuhan Tanjung Emas. Pembangunan Sistem Polder Banger, Sub Polder Tawang, Normalisasi Banjir Kanal, serta mega-proyek DAM Jatibarang (2011–2012) yang berfungsi ganda sebagai pengendali banjir dan cadangan air baku. Transformasi Semarang menjadi kota metropolitan yang inklusif, memadukan pesona sejarah dengan infrastruktur masa depan.