Traditional Art 20 Jul 2026 8 0.0 (0) 0

Mengintip Kemeriahan Dugderan, Pesta Rakyat Semarang yang Penuh Toleransi

Mengintip Kemeriahan Dugderan, Pesta Rakyat Semarang yang Penuh Toleransi
Dugderan: Ketika Suara Bedug dan Meriam Menyambut Ramadan di Semarang Setiap daerah di Indonesia memiliki cara uniknya tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Namun, jika Anda berada di Kota Semarang, Anda akan disambut oleh sebuah perayaan akbar yang riuh, penuh warna, dan sarat akan makna toleransi. Perayaan itu bernama Festival Dugderan. Bagi masyarakat Semarang, Ramadan belum benar-benar tiba jika suara "Dug" dan "Der" belum menggema di penjuru kota. Sejarah Lahirnya Suara "Dug" dan "Der" Nama Dugderan diambil dari onomatope (tiruan bunyi). Kata "Dug" berasal dari suara bedug masjid yang ditabuh, sedangkan "Der" berasal dari suara dentuman meriam bambu (atau meriam sungguhan pada masa lalu). Tradisi ini pertama kali digagas pada tahun 1881 oleh Bupati Semarang kala itu, Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat. Pada masa tersebut, masyarakat sering kali kebingungan dan berdebat mengenai kapan tepatnya hari pertama puasa dimulai. Untuk menyatukan suara dan memberikan pengumuman resmi kepada rakyat, Bupati memutuskan untuk membunyikan bedug di Masjid Agung Kauman yang disusul dengan dentuman meriam di halaman pendopo kabupaten. Sejak saat itu, suara "Dug... Der..." menjadi penanda resmi bahwa esok hari umat Islam di Semarang sudah mulai berpuasa. Warak Ngendog: Bintang Utama yang Penuh Makna Jika berbicara tentang Dugderan, mustahil untuk tidak menyebut Warak Ngendog. Ini adalah maskot atau hewan mitologi yang selalu menjadi bintang utama dalam arak-arakan karnaval Dugderan. Warak Ngendog bukanlah sekadar boneka hiasan, melainkan representasi visual dari "Kuali Peleburan" budaya di Semarang. Hewan imajiner ini memiliki bentuk fisik yang menggabungkan tiga unsur etnis utama di kota tersebut: Kepala Naga: Mewakili etnis Tionghoa. Tubuh Buraq/Unta: Mewakili etnis Arab. Kaki Kambing: Mewakili etnis Jawa. Selain wujudnya yang unik, nama Warak Ngendog juga memiliki filosofi mendalam. Kata Warak berasal dari bahasa Arab Wara', yang berarti menjaga diri dari perbuatan dosa atau menahan hawa nafsu. Sementara Ngendog (bertelur) menyimbolkan pahala atau hasil kebaikan yang akan didapatkan setelah sebulan penuh menahan nafsu di bulan puasa. Rangkaian Kemeriahan Dugderan Di masa modern, Dugderan telah berevolusi dari sekadar pengumuman menjadi festival rakyat yang berlangsung selama satu hingga dua minggu sebelum Ramadan. Kemeriahan biasanya dimulai dengan dibukanya "Pasar Dugderan", sebuah pasar malam yang menjual berbagai pernak-pernik, mainan tradisional (termasuk mainan Warak Ngendog dari kertas atau kayu), hingga kuliner khas seperti Roti Ganjel Rel. Puncak acara terjadi sehari sebelum Ramadan. Wali Kota Semarang, yang berperan layaknya Bupati di masa lalu, akan memimpin karnaval budaya yang diikuti oleh ribuan warga dari berbagai latar belakang. Arak-arakan ini bergerak menuju Masjid Agung Kauman. Di sana, Wali Kota akan membacakan Suhuf Halaqah (surat keputusan ulama) yang menyatakan awal bulan puasa, lalu memukul bedug yang disambut dengan suara dentuman. Lebih dari Sekadar Tradisi Agama Kini, Festival Dugderan bukan lagi sekadar acara keagamaan milik umat Islam saja. Dugderan telah menjadi pesta rakyat, daya tarik pariwisata, dan identitas budaya Kota Semarang. Melihat warga dari berbagai etnis dan agama tumpah ruah di jalanan untuk menyaksikan arak-arakan Warak Ngendog adalah bukti nyata bahwa Semarang adalah kota yang merawat toleransi. Lewat suara "Dug" dan "Der", Semarang mengajarkan bahwa perbedaan budaya bukanlah sesuatu yang harus dibenturkan, melainkan dirayakan bersama dalam suka cita.
Bagikan:
Interaksi pembaca

Rating, Favorit & Ulasan