Heritage 20 Jul 2026 5 0.0 (0) 0

Sejarah Masjid Menara Layur: Jejak Akulturasi Arab-Melayu di Semarang

Sejarah Masjid Menara Layur: Jejak Akulturasi Arab-Melayu di Semarang
Jika berbicara tentang wisata sejarah di Kota Semarang, perhatian wisatawan biasanya langsung tertuju pada kawasan Kota Lama atau Lawang Sewu. Namun, bergeser sedikit ke arah utara, tepatnya di Jalan Layur, Dadapsari, terdapat sebuah bangunan cagar budaya yang menyimpan sejarah panjang penyebaran Islam dan perdagangan di pesisir Jawa. Bangunan tersebut adalah Masjid Menara Layur, atau yang juga akrab disebut Masjid Kampung Melayu. Sebagai salah satu masjid tertua di Semarang, Masjid Menara Layur bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu akulturasi budaya yang harmonis. Mari kita telusuri sejarah dan keunikan arsitektur masjid bersejarah ini. Sejarah Berdirinya Masjid Kampung Melayu Masjid Menara Layur didirikan pada tahun 1802. Pembangunan masjid ini diinisiasi oleh para saudagar dari Hadramaut (Yaman, Timur Tengah) yang datang ke Semarang untuk berdagang. Kala itu, kawasan pesisir Semarang, khususnya di sekitar Kali Semarang, merupakan pelabuhan yang sangat sibuk. Para pedagang Arab ini kemudian menetap, berbaur, dan menikah dengan warga lokal, khususnya etnis Melayu dan Jawa. Pemukiman mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Kampung Melayu. Untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah masyarakat yang semakin berkembang, dibangunlah masjid ini secara gotong royong. Keunikan Arsitektur: Perpaduan Tiga Budaya Daya tarik utama dari Masjid Menara Layur terletak pada arsitekturnya yang merupakan perpaduan (akulturasi) dari tiga budaya: Arab, Melayu, dan Jawa. Gaya Melayu: Pengaruh Melayu sangat kental terlihat pada bentuk bangunan utama masjid yang menyerupai rumah panggung. Bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang kayu jati yang kokoh. Konsep rumah panggung ini sengaja dibuat untuk mengantisipasi banjir rob (air laut pasang) yang kerap melanda kawasan pesisir Semarang pada masa lalu. Gaya Jawa: Pengaruh budaya Jawa terlihat jelas pada bagian atap masjid yang berbentuk tajug (atap tumpang) bersusun tiga, mirip dengan arsitektur Masjid Agung Demak. Gaya Arab/Timur Tengah: Pengaruh Timur Tengah terlihat pada ornamen geometris, bentuk jendela, dan tentu saja, menara masjid yang menjulang tinggi. Menara Layur: Dari Mercusuar Menjadi Menara Azan Nama "Menara Layur" diambil dari ikon utama masjid ini, yakni sebuah menara setinggi kurang lebih 30 meter yang berada di bagian depan masjid. Uniknya, pada masa kolonial, menara ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan azan. Karena letaknya yang sangat dekat dengan pelabuhan dan Kali Semarang, menara ini dulunya juga difungsikan sebagai mercusuar atau menara pantau untuk mengawasi kapal-kapal dagang yang keluar masuk pelabuhan Semarang. Tradisi Unik Kopi Arab Saat Ramadan Selain bangunan fisiknya, Masjid Menara Layur juga memiliki warisan budaya tak benda yang selalu dinanti setiap bulan suci Ramadan, yaitu tradisi minum Kopi Arab. Kopi Arab ini bukanlah kopi biasa, melainkan racikan kopi yang dicampur dengan berbagai rempah-rempah seperti kapulaga, jahe, kayu manis, dan cengkeh. Kopi rempah yang menghangatkan tubuh ini dibagikan secara gratis kepada warga dan musafir sebagai menu takjil saat berbuka puasa. Tradisi turun-temurun ini masih terus dilestarikan oleh takmir masjid hingga hari ini. Destinasi Wisata Religi Andalan Semarang Kini, Masjid Menara Layur telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Semarang. Keaslian bangunannya yang masih sangat terawat menjadikannya destinasi wisata religi dan sejarah yang wajib dikunjungi. Berkunjung ke Masjid Kampung Melayu ini akan membawa Anda lorong waktu, merasakan nuansa pelabuhan kuno Semarang di mana budaya Arab, Melayu, dan Jawa melebur menjadi satu harmoni yang indah.
Bagikan:
Interaksi pembaca

Rating, Favorit & Ulasan